Cerpen Hari Guru

 

GURU DIGUGU DAN DITIRU

Sudah lama rasanya tidak memperingati hari guru. Masih ingat rasanya setiap tanggal 25 November  melakukan upacara di sekolah dan melakukan serangkaian kegiatan yang sama tiap tahunnya.

Namun, belakangan ini saya baru tahu ada hal lain ditanggal 25 ini yang patut diperingati selain hari guru, yaitu hari anti kekerasan terhadap perempuan. Saya dan teman-teman saya bersepakat untuk membuat tulisan yang mencangkup dua hal itu.

Dan pada kesempatan kali ini izinkan saya menceritakan sebuah kisah seorang siswi dimana ia mengalami hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Ceritaku ini terjadi saat aku berusia 16 tahun. Ketika, teman sebayaku menikmati masa-masa SMK tanpa dihantui rasa takut.  Namun berbeda denganku yang saat ini memiliki perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata karna bingung entah apa yang harus diungkapkan dan entah apa yang bisa diungkapkan. Karna hanya aku sendiri yang memahami rasa ini.

Pada akhirnya, ada hal yang ingin aku sampaikan. Tentang kejadian yang aku alami tepatnya sekitar satu tahun yang lalu. Aku menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh guruku sendiri, ia merupakan simbolisasi dari ketidakberdayaan perempuan dibawah umur menghadapi kejinya lingkungan yang penuh dengan relasi kuasa dan minimnya edukasi seks.

Berawal dari guru tersebut yang terus menerus memandangiku dari jauh selama dua tahun lebih dan selalu mencuri kesempatan untuk berinteraksi denganku. Sampai dimana ia melakukan pelecehan seksual terhadapku. Namun, tidak ada reaksi penolakan yang kuat dariku, aku hanya merasa bingung, cemas, diam tak berkutik. Perlakuan guru tersebut terjadi berulang kali.

Sosok yang kuanggap penting dan berkuasa serta menjadi panutan bagi saya seorang siswi justru melakukan hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang guru. Dia seorang guru yang bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa hanya menjadi predator yang di bentengi satu hal, yaitu statusnya sebagai guru “dia” yang seharusnya mendidik muridnya untuk mengetahui bagian tubuh yang  tidak boleh di sentuh oleh orang lain justru menjadi pelaku utama dalam perlakuan itu.

Peristiwa ini berhasil membawa saya terbawa dalam pikiran liar tokoh guru, terbangan syahwat yang kiat berarus menghalalkan nafsu dan dilimpahkan pada sosok-sosok polos tak lain adalah murid.

Oleh karena itu, saya ingin menyadarkan masyarakat luas betapa pentingnya edukasi seks dan betapa bahayanya relasi kuasa yang terjadi, terutama pada masyarakat yang masih “buta” akan hal itu.

Selamat hari guru untuk para guru yang menjadi lilin penerang didalam kegelapan, bukan obor pemandu menuju jurang kesesatan. Selamat hari anti kekerasan untuk perempuan, dimana menjadi perempuan bukanlah suatu kelemahan, melainkan sebuah kebanggaan.

 

Comments